Sunday, May 17, 2009

Tanpa kita sedar..

Sedar dengan Sebuah Kehilangan

Oleh: Muhammad Nuh

sumber : web yg boleh dipercayai :)
(diubahsuai mengikut bahasa yg difahami penulis blog :P)

“Orang yang pandai adalah yang senantiasa mengoreksi diri dan menyiapkan bekal kematian. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah.” (At-Tirmidzi)

Maha Besar Allah Yang menghidupkan bumi setelah matinya. Air tercurah dari langit membasahi tanah-tanah yang sebelumnya gersang. Aneka benih kehidupan pun tumbuh dan berkembang. Sayangnya, manusia mematikan sesuatu yang sebelumnya hidup.

Tanpa terasa, kita sudah begitu boros terhadap waktu

Trend hidup saat ini memaksa siapapun untuk memandang dunia menjadi begitu mengasyikkan. Serba mudah dan mewah. Sebuah keadaan dimana kita tidak perlu lagi bersusah-susah dan hanya menekan butang suis. Dengan bahasa lain, dunia menjadi begitu menerlenakan.

Tidak heran jika gaya hidup perkotaan menggiring orang menjadi manja. Senang bersantai dan malas kerja keras. Di suasana serba mudah itulah, waktu menjadi begitu murah. Saat, minit, jam, hingga hari, berlalu begitu saja dalam keadaan gaya hidup santai.

Sebagai perumpamaan, jika seseorang menyediakan kita wang sebesar RM86,000 setiap hari. Dan jika tidak habis, wang itu mesti dikembalikan; pasti kita akan memanfaatkan wang itu buat sesuatu yang bernilai pelaburan. Kerana boleh jadi, kita tak punya apa-apa apabila pemberian wang itu diberhentikan. Dan sangat bodoh jika disia-siakan tanpa memenuhi keperluan yang membawa manfaat.

Begitulah waktu. Tiap hari Allah menyediakan kita tidak kurang dari 86,400 saat. Jika hari berganti, berlalu pula hari semalam tanpa kita sedari. Dan di hari yang baru, Allah kembali sediakan jumlah waktu yang sama. Begitu seterusnya. Hingga, tak ada lagi jatah waktu yang diberikan.(ajal)

Sayangnya, tidak sedikit yang gemar membelanjakan waktu cuma berbuat yang remeh-temeh. Dan penyesalan pun muncul ketika saat waktu diambil semula. Tanpa pemberitahuan, tanpa teguran.

Allah swt. berfirman, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari Allah swt.).” (Al-Anbiya’: 1)

Tanpa terasa, kita kian jauh dari keteladanan Rasul dan para sahabat

Pergaulan hidup antara manusia menyebabkan manusia itu mudah terpengaruh. Saat itulah, tanpa terasa, terjadi pertukaran selera, gaya, kebiasaan, dan perilaku. Semakin luas lingkungan pergaulan, makin luas pengaruh kepada diri.

Masalahnya, tidak selamanya seseorang kuat dalam posisi terbaik. Kadang kala bisa surut. Ketika itu, ia lebih berpeluang ditarik daripada menarik. Tanpa sedar, terjadi penaklukan pengaruh luar pada diri seseorang. Perlahan-lahan tapi pasti.

Suatu saat, orang tidak merasa berat hati melakukan perbuatan yang dulunya pernah dibenci. Dan itu bukan lantaran keterpaksaan. Tapi, kerana adanya pelarutan dalam diri terhadap nilai-nilai yang bukan sekadar tidak pernah dicontohkan Rasul, bahkan dilarang. Sekali lagi, perlahan-lahan tapi pasti.

Anas bin Malik pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang begitu dahsyat di hadapan generasi setelah para sahabat Rasul. Anas mengatakan, “Sesungguhnya kamu kini telah melakukan beberapa amal perbuatan yang dalam pandanganmu remeh, sekecil rambut; padahal perbuatan itu dahulu di masa Nabi saw. kami anggap termasuk perbuatan yang merosak agama.” (Bukhari)

Tanpa terasa, kita jadi begitu asing dengan Islam

Kelunturan terhadap nilai yang dipegang seorang hamba Allah terjadi tidak serentak. Tapi, begitu halus: sedikit demi sedikit. Pada saatnya, hamba Allah ini merasa asing dengan nilai Islam itu sendiri.

Ajaran Islam tentang ukhuwah misalnya. Kebanyakan muslim faham betul kalau orang yang beriman itu bersaudara. Saling tolong. Saling mencintai. Dan, saling memberikan pembelaan. Tapi peliknya, nilai-nilai itu kini menjadi tidak biasa, masing-masing lebih pentingkan diri sendiri. (Astaghfirullah)

Semua pertolongan, perlindungan, pengorbanan selalu dinilai dengan pembalasan. Ada hak, ada kewajiban. Ada wang, ada servis nya. Tiba-tiba seorang muslim jadi merasa wajar hidup dalam karakter individualistik. Bahkan, tidak mustahil, seorang merasa tidak mahu berceramah di suatu tempat karena nilai bayarannya kecil. Sekali lagi, tak ada wang, tak ada servisnya.

Firman Allah swt. “Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami, kecuali dengan rahmat dari Tuhanmu….” (Al-Isra’: 86-87)

Tanpa terasa, kita tak lagi dekat dengan Allah swt.

Inilah sumber dari kelunturan nilai keimanan seorang hamba. Kalau orang tak lagi dekat dengan majikannya, susah untuk menjamin peningkatan dalam kerjanya. Kesungguhan kerjanya akan melemah. Bahkan kadang kala tak lagi punya nilai. Janji lepas sudah.

Jika ini yang terus terjadi, tidak tertutup kemungkinan, ia lupa dengan sang majikan. Ketika seorang hamba melupakan Tuhannya, Allah akan membuat orang itu lupa terhadap diri orangnya sendiri. Ada krisis identiti. Orang tak lagi faham, kenapa dia hidup, dan ke arah mana langkahnya berakhir?

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)

1 comment:

Siti Yusrina Nadihah Binti Jamaludin said...

Salam habibati...bagus kan artikel ini? kalau anti lihat tarikh artikel itu ditulis, dah berlalu tahun lepas...tapi mashaAllah, peringatan yang diberikan penulis takkan pernah lapuk...kerana manusia fitrahnya pelupa....Astaghfirullah.

P/s: Macamana anti boleh tahu ana ada update blog tadi? selalunya ana akan beri link di ym, tapi kali ini ana sengaja tak bagi link...huhu...memang instinct anti kuat dan tepat....alhamdulillah...alhamdulillah,
Alhamdulillah...semuanya dengan izin Allah...ana dah usaha sedaya yang mungkin (mudah-mudahan), sekarang tinggal tawakkal dan berusaha untuk final seminar....ud'u li...

Bila tengok entri sebelumnya,ana teringat sangat kat Naasih Ihsaan...jaga amanah Allah itu baik-baik,dearie.

From Queensland with love (",)